Misi yang "Gagal" Itu Menjangkau Dua Miliar Orang
30 May 2026 - Event
Misi kapal kemanusiaan menembus blokade Israel di Gaza, Global Sumud Flotilla, berhenti setelah Israel membajak semua kapal dan menculik semua aktivis di perairan internasional. Ada sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang juga diculik militer Israel. Meski misi dihentikan Israel, Koordinator Global Peace Coalition Indonesia (GPCI) sekaligus Direktur SMART 171 Maimon Herawati menegaskan misi itu justru melampaui semua target awal.
Hal ini dikemukakan Maimon dalam SMART CLASS yang disiarkan daring, kemarin (30/5). "Gaza dan genosida itu tidak lagi dibicarakan setelah ada perjanjian gencatan senjata. Target pertama kami adalah mendobrak kebisuan, menjadikan genosida ini sebagai sesuatu yang kembali dibicarakan. Dan itu berhasil secara masif," kata Maimon. GSF dan Gaza menjadi topik yang menjangkau dua miliar orang.
Perbincangan tentang Gaza di media sosial dan media arus utama dunia menembus angka yang belum pernah terjadi sebelumnya. Duta besar Israel di 24 negara dipanggil, dan sanksi individual dijatuhkan terhadap pejabat Israel. "Kalau pakai bahasa perbandingan, efeknya bukan lagi banjir tapi udah tsunami," seloroh Maimon.
Bersama Maimon, turut hadir Hendro Prasetyo sebagai narasumber. Ia adalah satu dari 9 WNI yang diculik Israel. Ia naik kapal Karsis Sadabat dan mengungkap taktik yang membuat kapal mereka menjadi yang terakhir dibajak sekaligus berlayar paling dekat ke Gaza, sekitar 50 hingga 60 mil laut. Kru kapal dengan berani mematikan sistem pelacak Garmin mereka sehingga terkesan hilang kontak, padahal terus melaju secara gerilya.
Israel menyiksa Hendro, setidaknya setruman dan 2 pukulan tinju mendarat padanya. Meski begitu, Hendro tetap bisa tertawa menceritakan momen yang menurutnya unik.
Mulanya, mereka memperkirakan Israel akan intersepsi pada malam hari, tapi justru tentara Israel menyergap siang bolong, 19 Mei waktu Turki. Dan saat itu, salah satu kru bernama Abdurrahman Gazal sedang masak untuk makan siang.
"Kita anggap intersep ini harusnya mencekam ya, nah tapi jangan lupakan makan. Itu aku juga kurang paham kenapa kami tetap makan, tetap enjoy gitu," cerita Hendro.
Di forum itu, Maimon membuka strategi hukum preventif yang telah disiapkan sebelum kapal berlayar. Seluruh aktivis menandatangani Power of Attorney kepada lembaga hukum internasional 'Adalah' dan merekam video SOS darurat. Jadi ketika aktivis di kapal putus komunikasi, tim GSF sudah mengetahui mereka dibawa ke Pelabuhan Ashdod, dan tim pengacara sudah siaga di sana.
"Walaupun Hendro dan teman-teman hilang komunikasi kepada dunia, tapi GSF tidak pernah hilang kontak dan tidak hilang informasi tentang mereka. Kuasa hukum mereka sudah siap di Ashdod sebelum mereka sampai," pungkas Maimon.
Tekanan global ini disebut memaksa Parlemen Israel (Knesset) mendadak mengubah batas penahanan aktivis dari 72 jam menjadi hanya 24 jam. Seluruh relawan kemudian dievakuasi oleh tiga pesawat yang dicarter pemerintah Turki secara gratis menuju Istanbul.
Kini berkas penyiksaan fisik selama penculikan telah resmi diajukan ke Mahkamah Pidana Internasional (ICC).
Smart Class adalah program edukasi publik yang diselenggarakan SMART 171 (Solidarity of Muslim for Al-Quds Resist 171). Sesi 30 Mei 2026 merupakan forum pertama di mana Hendro Prasetyo dan Maimon Herawati secara bersamaan memaparkan kesaksian dan analisis strategis misi GSF 2026 kepada publik secara daring.