Anak Muda Indonesia Melawan Genosida dengan Jarum dan Benang

Anak Muda Indonesia Melawan Genosida dengan Jarum dan Benang

19 Apr 2026 - Event

Ada yang berbeda di Palestine Center kemarin (19/4). Beberapa anak muda melaksanakan “Ngampar di Palcen”, menghadirkan suara-suara yang lantang soal pentingnya merawat budaya Palestina. Peserta luring hanya sekitar 10 orang, tapi ratusan lainnya bergabung daring. Kebanyakan yang datang adalah pegiat aksi dan anggota komunitas solidaritas dari Bandung, orang-orang yang memang sudah terbiasa bergerak.


SMART 171 melaksanakan acara ini dalam rangka menghidupkan budaya Palestina yang dijajah. Ada talkshow sekaligus workshop tatreez, sulaman khas Palestina. Bukan sekadar belajar teknik, peserta diajak memahami bahwa seni ini juga bentuk perlawanan. Ridwan Adrianou, ketua pelaksana, bicara soal genosida dan dehumanisasi. Menurutnya, menghapus budaya adalah langkah pertama dalam membunuh sebuah bangsa. Begitu budaya dilenyapkan, manusia di baliknya perlahan kehilangan suara.


Diskusi utama menghadirkan Kang Wahyu dari Rawssndct. Ia menyinggung soal fragmentasi di gerakan solidaritas lokal. Tantangan nyata, katanya, bergerak tanpa dikotak-kotakkan organisasi. Begitu banyak komunitas, tapi seringkali sibuk dengan identitas sendiri. Teh Tine dari Mujahidah Sahabat Palestina mendukung. “Aksi di Indonesia, terutama di Bandung, sering terlalu terkotak. Banyak NGO sibuk mempertahankan eksistensi, padahal gerakan bisa lebih organik tanpa drama ego organisasi,” ujarnya.


Workshop tatreez menjadi bagian penting nan seru. Kapan lagi tahu dan belajar sulaman warga Palestina turun temurun?


Bagi para peserta, mengetahui root Palestina adalah bagian dari melawan narasi penjajahan bahwa tanah itu dulunya antah berantah tak berpenghuni. Jelas telah ada peradaban besar dan kaya akan budaya Palestina sejak dulu. Mereka duduk bersama, belajar menyulam, dan mendapat informasi baru bahwa Tatreez ternyata punya pattern, warna, dan ciri khas yang berbeda di masing-masing daerah.


Dalam dunia yang penuh informasi serba cepat, acara kecil seperti “Ngampar di Palcen” jadi bukti perlawanan tak melulu harus besar-besaran. Perlawanan bisa bermula dari ruang kecil, dari obrolan, jarum dan benang, dari semangat menjaga budaya yang tidak boleh hilang.

Bagikan

Baca Berita Terbaru Lainnya