Kamp-kamp Pengungsian di Gaza Menjadi Lahan Subur Bagi Penyebaran Epidemi
Kamp-kamp Pengungsian di Gaza Menjadi Lahan Subur Bagi Penyebaran Epidemi

Kamp-kamp Pengungsian di Gaza Menjadi Lahan Subur Bagi Penyebaran Epidemi

01 Mar 2026 - Berita

Di tengah apartheid yang terus berlanjut di Jalur Gaza, situasi kemanusiaan dan kesehatan memburuk di kamp-kamp pengungsian dan tempat penampungan, di mana ratusan ribu orang hidup dalam kondisi yang sangat buruk, bahkan kekurangan kebutuhan dasar untuk hidup sehat.


Kepadatan penduduk yang parah, kekurangan air bersih, penumpukan sampah, dan runtuhnya layanan sanitasi telah mengubah lokasi pengungsian ini menjadi tempat berkembang biaknya penyakit dan epidemi.


Dengan runtuhnya sistem perawatan kesehatan dan menipisnya kapasitas rumah sakit, kekhawatiran meningkat tentang wabah penyakit menular yang dapat meningkat menjadi krisis kesehatan yang meluas, terutama di kalangan anak-anak, lansia, dan orang sakit.


"Risiko Kesehatan"


Para ahli kesehatan dan lingkungan memperingatkan bahwa berlanjutnya kondisi ini dapat menyebabkan peningkatan penyakit yang ditularkan melalui air dan serangga, serta penyakit kulit dan pernapasan, yang selanjutnya memperburuk risiko bagi kehidupan para pengungsi yang sudah menghadapi tantangan sehari-hari terkait makanan, tempat tinggal, dan perawatan kesehatan.


Sementara itu, Abdul Raouf Al-Mana’ma, Profesor Mikrobiologi di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Islam Gaza, menegaskan bahwa penumpukan air limbah dan sampah padat di kamp-kamp dan di antara tenda-tenda pengungsi merupakan faktor risiko kompleks yang memengaruhi kesehatan masyarakat, lingkungan, dan stabilitas sosial. Ia menjelaskan bahwa, dalam konteks pengungsian massal dan infrastruktur yang lemah, kamp-kamp tersebut menjadi titik rawan penularan infeksi dan memperburuk penyakit.


Dalam wawancara eksklusif, Al-Mana'ma menunjukkan bahwa pencemaran sumber air oleh limbah menyebabkan penyebaran beberapa penyakit yang ditularkan melalui air, seperti diare akut, kolera, disentri, dan hepatitis A dan E, sebagai akibat dari air minum yang terkontaminasi, penggunaan peralatan makan bersama, dan praktik kebersihan pribadi yang buruk.


Ia juga menunjukkan bahwa penumpukan air dan limbah yang menggenang menyediakan lingkungan ideal untuk perkembangbiakan serangga dan hewan pengerat, meningkatkan risiko penyakit yang ditularkan melalui vektor seperti malaria dan demam berdarah, yang ditularkan oleh nyamuk, serta lalat yang berkontribusi pada penyebaran bakteri usus, dan hewan pengerat yang dapat menularkan penyakit seperti leptospirosis.


Menurut Al-Mana’ma, kondisi lingkungan di dalam kamp juga berkontribusi pada penyebaran infeksi kulit dan penyakit pernapasan. Kelembapan yang konstan dan kebersihan yang buruk menyebabkan infeksi kulit bakteri dan jamur, sementara sampah yang membusuk dan emisi gas memperburuk asma dan infeksi pernapasan di antara para pengungsi.


Dari segi lingkungan, ia memperingatkan bahwa rembesan air limbah ke dalam tanah dapat menyebabkan kontaminasi tanah dan air tanah, peningkatan beban mikroba di lingkungan, dan berpotensi peningkatan resistensi antibiotik karena penyebaran residu obat dan bakteri resisten.


Lebih lanjut, dekomposisi bahan organik dalam limbah melepaskan gas seperti metana dan hidrogen sulfida, yang dapat menyebabkan iritasi pernapasan, sakit kepala, dan mual pada warga yang tinggal di dekat tempat pembuangan limbah sementara.


Risiko tidak hanya terbatas pada aspek kesehatan dan lingkungan. Al-Mana’ma menunjuk pada dampak sosial dan psikologis yang serius, karena kurangnya fasilitas sanitasi dan hilangnya privasi menyebabkan hilangnya martabat manusia di antara para pengungsi, di samping meningkatnya ketegangan di dalam kamp, ​​dengan risiko yang lebih besar bagi perempuan dan anak-anak.


Ia menekankan bahwa kelompok yang paling rentan dalam situasi ini termasuk anak-anak di bawah usia lima tahun, yang menghadapi risiko dehidrasi dan kematian akibat diare, serta lansia, wanita hamil, penderita penyakit kronis, dan mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.


Mengingat rapuhnya sistem kesehatan di Jalur Gaza, Al-Mana’ma memperingatkan bahwa lonjakan kasus infeksi secara tiba-tiba dapat memberikan tekanan besar pada unit gawat darurat dan mengurangi persediaan antibiotik serta perlengkapan medis lainnya, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya wabah yang meluas.


Ia menunjukkan bahwa ada sejumlah indikator peringatan dini yang harus dipantau di dalam kamp, ​​termasuk peningkatan kasus diare berair, peningkatan demam yang tidak dapat dijelaskan, peningkatan keluhan ruam kulit, di samping mengamati kematian tikus atau peningkatan jumlahnya, atau perubahan warna dan bau air.


Sumber : Shehab News

Bagikan

Baca Berita Terbaru Lainnya